Kisah Muslim Kosovo yang terjun di medan Jihad Suriah - PojokGaul.com

PojokGaul.com

Blog Informasi gaul anak muda

Post Top Ad

Responsive Ads Here

6/14/2013

Kisah Muslim Kosovo yang terjun di medan Jihad Suriah

Seorang Muslim Kosovo yang telah dua kali
terlibat perang di Suriah, mengatakan
tidaklah sulit untuk mencapai Pristina di
Kosovo menuju jantung pertempuran dalam
perang yang masih berkecamuk di Suriah. Yang Anda butuhkan adalah tiket pesawat ke
Turki yang tidak memerlukan visa dari Kosovo,
ujar mantan guru berusia 30 tahun. Di sana, relawan menyeberangi perbatasan
Turki yang banyak memiliki pori dan
bergabung dengan pejuang oposisi.

Di sana, relawan menyeberangi perbatasan
Turki yang banyak memiliki pori dan
bergabung dengan pejuang oposisi. Seorang mantan guru bahasa Inggris di sebuah
sekolah dasar di Kosovo tenggara itu kini
memelihara jenggotnya hingga panjang. Duduk di sebuah kafe dan meminum
macchiato, ia terlihat santai meskipun polisi
Kosovo berada di dekatnya. “Banyak orang tahu bahwa saya pernah
bertempur di Suriah,” ujar ST yang ingin
merahasiakan identitasnya dari media. Dia mengatakan, ia meminjam uang untuk
membeli tiket ke Turki dan telah berjuang di
jajaran pejuang oposisi Suriah sebanyak dua
kali. “Pertama kali selama musim dingin tahun 2012
ketika saya berada di sana selama sembilan
minggu dan kembali ke rumah selama satu
bulan karena alasan keluarga,” ujarnya. “Kedua kali saya hanya tinggal selama tiga
minggu, karena saya mengalami cedera tangan
dan tidak punya pilihan lain selain untuk
kembali.” ST mengatakan ia berjuang di utara Aleppo
dan di Skahur, di mana menurutnya para
pejuang oposisi sangat pemberani.

ST mengatakan ia berjuang di utara Aleppo
dan di Skahur, di mana menurutnya para
pejuang oposisi sangat pemberani. Dia mengatakan bahwa ia membawa senapan
Kalashnikov selama bertempur dan berada di
garis depan. “Garis depan antara musuh tidak
lebih dari 30-40 meter. Saya selalu berada di
garis depan,” tegasnya. ST menambahkan bahwa ia sangat ingin
terjun ke medan Jihad di Suriah setelah
menyaksikan rekaman kejahatan perang oleh
pasukan rezim Assad yang tersebar di
internet. “Saya mulai memimpikan hal itu.
Saya tahu bahwa suatu hari saya akan pergi,” ungkapnya. Alasannya untuk bergabung dalam Jihad di
Suriah adalah karena kewajiban agama, bukan
karena alasan materi. Dalam Islam, ketika sekelompok ummat
memerlukan bantuan, maka yang lainnya wajib
menawarkan materi atau bantuan kemanusiaan
atau bergabung dengan mereka dalam
pertempuran untuk membela mereka yang
terdzolimi, dan ST telah melakukannya. “Inisiatif ini datang dari video yang saya lihat
di internet yang membuat saya sangat
prihatin,” ujarnya. “Al Qur’an dan Hadist menyatakan bahwa satu
hari yang dihabiskan untuk berjihad adalah
sama dengan 60 tahun ibadah dan Ramadhan,”
tambahnya. ST mengatakan Masjid menjadi tempat
pertemuan bagi para relawan menuju zona
perang. “Masjid adalah di mana Anda menemukan
orang-orang yang membawa Anda ke Suriah,
karena ada banyak pengungsi Suriah di sana,”
jelasnya.

Di Suriah, ia berkomunikasi dengan bahasa
campuran, Inggris dan Arab. Ia masih mengingat apa yang terjadi di
Sakhur. Selain bertempur, ia pernah
mencukur rambutnya dan membeli parfum di
sana. “Saya pernah pergi ke barber shop dan
mencukur ramburku,” ujarnya. “Dan aku
memerlukan parfum, jadi berhenti di toko
parfum dan membelinya satu, bersama dengan
komandan saya.” “Kami merasa ngeri ketika melihat pemilik toko
telah diamputasi lengan dan kakinya,”
ingatnya. “Pasukan khusus Assad datang dan mereka
memukulinya, memotong lengan dan kakinya,”
ujarnya. ST bukanlah satu-satunya Muslim Kosovo
yang terjun ke medan Jihad Suriah. Vedat Xhymshiti, seorang jurnalis Kosovo
yang meliput di Suriah selama beberapa
minggu, menemukan banyak Albania di sana. “Secara umum, seluruh Albania yang saya
temui di sana yang telah bergabung dalam
perang untuk alasan yang sama, yaitu
berjihad,” katanya. Xhymshiti mengatakan ia menemui 100 sampai
150 pejuang Albania di Suriah. Alasan ST berbicara kepada media adalah
untuk menepis rumor yang dibuat oleh orang
yang menyatakan bahwa mereka berperang
karena motif uang. “Pertanyaan tentang apakah Anda dibayar
untuk berperang, atau Anda seorang relawan
telah memaksa saya untuk berbicara atas nama
komunitas Muslim Albania,” ujarnya. “Saya tidak mengambil uang,” lanjutnya.
“Saya telah membaca artikel di surat kabar
mengenai tempat-tempat, alamat dan masjid-
masjid yang mengorganisir orang dan artikel
ini semuanya bohong,” tambahnya. “Garis depan terbuka lebar untuk siapa saja,
dan jika Anda memiliki niat untuk pergi, tidak
ada yang bisa menghentikan Anda. Tidak
dibutuhkan organisasi semacam
itu.” (haninmazaya/ arrahmah.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here